Sebut saja L, seorang remaja laki-laki, usia 16 tahun, penyandang leukemia..Dan dia sudah menjadi pasien saya selama 1 minggu lebih...
Awalnya saya optimis anak ini bisa sembuh, secara klinis sudah terjadi peningkatan, air seninya sudah tidak merah, sudah tidak mual-muntah lagi, hanya saja masih mengeluh lemas sedikit......Tapi hal itu hanya terjadi 2 hari..Selanjutnya seperti antiklimaks..
Entah hari keberapa opnamenya, air seninya memerah lagi, di tangannya sudah ada bintik2 merah seperti penderita DBD, di mulut dan gusinya banyak gumpalan darah, di kulitnya banyak lebam, dan sangat terganggu dengan keluhan nyeri sendinya...
Kata dokter spesialis, ini harus segera di rujuk ke Bali untuk menjalani kemoterapi, karena disini tidak dijual obat kemoterapinya... Dan keluarga mengatakan akan berunding terlebih dahulu..Dan dokter menunggu kepastiannya...
Keluhan tangan berbintik-bintik dan banyak lebam serta banyak gumpalan darah di gusi dan mulut akibat trombositnya yang terus berkurang dimakan sel darah putih, jumlahnya hanya 2000 dari normalnya minimal 150 ribu, sudah mendapat transfusi 20 kantung trombosit, tapi tidak ada peningkatan....
Keluhan nyeri sendi sampai L tidak bisa jalan dan hanya bisa dipapah diakibatkan sel ganas sudah menyebar ke sendi-sendi..
Teringat, setiap pagi, saya visite di kamar 222, bed paling pojok sebelah kanan, menanyakan keluhan yang selalu dijawab malu-malu, menjawab pertanyaan-pertanyaan keluarganya yang bersemangat memperjuangkan kehidupan anaknya, melihat ibunya yang tidak lelah bolak-balik PMI mencari kantong demi kantong darah, melihat nenek dan kakeknya yang memapah cucunya yang ingin berjalan karena bosan berbaring terus...........
Dan siang itu, selagi di ruang koass, saya di sms teman koas saya yang bertugas di ruangan yang sama, "Dian, si L pulang paksa, ga ada biaya katanya.."
Hmmm...Dan semua berakhir sudah, pagi berikutnya, saya melihat bed 222, paling pojok sebelah kanan sudah diisi pasien lain....
Dimanapun kamu, saya berdoa, semoga terjadi keajaiban, saya ingin sekali melihat mata penuh harap itu lagi, tapi tidak di rumah sakit.........