Gagal emang ga enak. Siapa yang suka gagal. Ga ada. Bayi pun kalo jatuh dari berdiri pasti nangis. Cuma dari episode gagal yang sekarang saya berusaha menata hati dan pikiran, supaya jangan parah - parah amat kalo jatuh. Nangis aja, tapi jangan lama - lama. Masih banyak yang perlu diurusin di dunia ini. Kayaknya gitu. Sekarang sih bisa ya ngomognya gitu, pas praktenya besok ya entahlah. Keulang lagi deh tragedi 13 tahun yang lalu.
Selasa, 03 November 2020
Gitu aja sudah
Semua hal tidak perlu berjalan sempurna Dian, terima saja, jalani, jangan dilawan, nanti makin sakit.
Senin, 29 Juni 2020
Salar de Uyuni
Apa yang menarik dari hanya dataran garam terluas di dunia???
Harusnya ga ada, tapi tempat ini entah kenapa menarik atensi saya.
Jadi tempat ini membuktikan bahwa ga perlu tempat super mewah untuk bisa menjadi menarik. Cukup matahari, awan, dan dataran garam sebagai super cermin. Incredible!
Harusnya ga ada, tapi tempat ini entah kenapa menarik atensi saya.
Jadi tempat ini membuktikan bahwa ga perlu tempat super mewah untuk bisa menjadi menarik. Cukup matahari, awan, dan dataran garam sebagai super cermin. Incredible!
Rabu, 10 Juni 2020
Annonate
Siang ini selagi buat tesis, ada 1 lagu yang oke nih menurut saya, judulnya Membasuh, dinyanyiin sama Hindia dan Rara Sekar.
Jadi pada lagu ini pesannya adalah, kita hidup bukan hanya untuk mengharapkan apa yang kita beri akan kembali.
Sampai usia saya sekarang ini, uda banyak ketemu keadaan yang bikin jungkir balik dan orang-orang dengan beragam rupa. Salah satu yang saya pelajari adalah harapan dan realita seringkali ga sejalan. Dan sumber kekecewaan selama ini adalah ya dari ga sinkronnya harapan dan realita itu. Saya jadi uring-uringan, ngomel-ngomel seharian, dan yaa variatif sih ya ngilangin kecewanya, bisa cepat balik, bisa juga lama banget, tergantung kadarnya.
Jadi, semakin kesini saya jadi belajar, kecewa itu ga enak. Jadi belajarlah memposisikan diri, jangan menaruh harapan yang tinggi pada suatu hal yang berpotensi mengecewakan. Atau belajarlah untuk iklas iklas aja sudah. Jangan pamrih, jangan berharap lebih. Kita buat baik ya buat baik aja, jangan minta insentif yang ga jelas turun kapan.
Jadi kalo seandainya kita analogikan aksi adalah A dan reaksi adalah R, maka :
Bila kita berharap satu aksi harus menghasilkan 1 reaksi, maka ya hasilnya adalah 1/1 = 1
Bila kita berharap 1 aksi kita akan menghasilkan 2 reaksi, maka kita akan dapatkan 1/2
Bila kita melakukan 1 aksi, tetapi tidak mengharapkan reaksi (0), maka 1/0 yang kita terima adalah tak terhingga
Jadi, dalam hal ini mungkin hukum ke tiga Newton mendapat pengecualian dalam aplikasinya.
Waktu itu, ini masalah duit sih ya, ga banyak sih, 600 ribu, jadi kita rencana pergi seminar ber 4 ke jakarta, waktu itu saya nalangin untuk biaya tiket, dan pada hari H adalah teman saya yang batal pergi. Tiket uda dipesan, mau nagih juga ga enak karena sepertinya dia ada masalah ekonomi. Jadi ya uda deh, ta iklasin aja. Setelah beberapa lama, eh dapet duit dari departemen, dengan jumlah berkali-kali lipat, jadi senengnya berlipat lipat juga waktu itu.
Satu lagi, saya waktu itu kan sempat jadi ODP, eh ga taunya dapet bantuan 1 tas dari dinas kesehatan, isinya mie, minyak, gula, beras, sabun, snack, sarden. Seneng sih, kayak dapet parsel gitu, cuma ya pada akhirnya saya kasi ke tukang bakpao yang sering lewat depan rumah, pas kasi dan dia terima dengan riang gembira, rasanya juga saya jadi ketularan gembira yang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari rasa senang saya pas saya terima parsel dari dinas kesehatan. Ya kali kan kita mengharapkan si bapak bakpao kasi hal yang sama ke kita.
Jadi ya udahlah, daripada nunggu insentif yang entah kapan, dan berhubung negara sepertinya juga sedang tidak baik-baik saja ekonominya, ya berbuatlah selagi bisa, selagi sehat, selagi mampu, selagi masih hidup.
Jadi pada lagu ini pesannya adalah, kita hidup bukan hanya untuk mengharapkan apa yang kita beri akan kembali.
Sampai usia saya sekarang ini, uda banyak ketemu keadaan yang bikin jungkir balik dan orang-orang dengan beragam rupa. Salah satu yang saya pelajari adalah harapan dan realita seringkali ga sejalan. Dan sumber kekecewaan selama ini adalah ya dari ga sinkronnya harapan dan realita itu. Saya jadi uring-uringan, ngomel-ngomel seharian, dan yaa variatif sih ya ngilangin kecewanya, bisa cepat balik, bisa juga lama banget, tergantung kadarnya.
Jadi, semakin kesini saya jadi belajar, kecewa itu ga enak. Jadi belajarlah memposisikan diri, jangan menaruh harapan yang tinggi pada suatu hal yang berpotensi mengecewakan. Atau belajarlah untuk iklas iklas aja sudah. Jangan pamrih, jangan berharap lebih. Kita buat baik ya buat baik aja, jangan minta insentif yang ga jelas turun kapan.
Jadi kalo seandainya kita analogikan aksi adalah A dan reaksi adalah R, maka :
Bila kita berharap satu aksi harus menghasilkan 1 reaksi, maka ya hasilnya adalah 1/1 = 1
Bila kita berharap 1 aksi kita akan menghasilkan 2 reaksi, maka kita akan dapatkan 1/2
Bila kita melakukan 1 aksi, tetapi tidak mengharapkan reaksi (0), maka 1/0 yang kita terima adalah tak terhingga
Jadi, dalam hal ini mungkin hukum ke tiga Newton mendapat pengecualian dalam aplikasinya.
Waktu itu, ini masalah duit sih ya, ga banyak sih, 600 ribu, jadi kita rencana pergi seminar ber 4 ke jakarta, waktu itu saya nalangin untuk biaya tiket, dan pada hari H adalah teman saya yang batal pergi. Tiket uda dipesan, mau nagih juga ga enak karena sepertinya dia ada masalah ekonomi. Jadi ya uda deh, ta iklasin aja. Setelah beberapa lama, eh dapet duit dari departemen, dengan jumlah berkali-kali lipat, jadi senengnya berlipat lipat juga waktu itu.
Satu lagi, saya waktu itu kan sempat jadi ODP, eh ga taunya dapet bantuan 1 tas dari dinas kesehatan, isinya mie, minyak, gula, beras, sabun, snack, sarden. Seneng sih, kayak dapet parsel gitu, cuma ya pada akhirnya saya kasi ke tukang bakpao yang sering lewat depan rumah, pas kasi dan dia terima dengan riang gembira, rasanya juga saya jadi ketularan gembira yang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari rasa senang saya pas saya terima parsel dari dinas kesehatan. Ya kali kan kita mengharapkan si bapak bakpao kasi hal yang sama ke kita.
Jadi ya udahlah, daripada nunggu insentif yang entah kapan, dan berhubung negara sepertinya juga sedang tidak baik-baik saja ekonominya, ya berbuatlah selagi bisa, selagi sehat, selagi mampu, selagi masih hidup.
Selasa, 09 Juni 2020
Happy Birthday...!!!
Banyak orang yang ga mudah bilang sayang, ga mudah bilang cinta, bahkan kepada orang yang membersamai mereka bertahun-tahun aja nggak bisa, bukan karena ga mau, tapi memang mereka ga terbiasa.
Lagipula tidak pernah mengucapkan bukan berarti dia ga merasakannya. Tidak pernah mengucapkan bukan berarti perasaanya tidak sebesar mereka yang mengucapkannya.
Toh besaran perasaan dan dalamnya perasaan seseorang tidak bisa diukur dengan kalimat semata. Gapapa, namanya manusia punya cara dan sikapnya masing-masing untuk menunjukkan kasih sayang.
Tapi entah kenapa, saya justru pecaya bahwa sebagian besar manusia suka mendengar kalimat itu diutarakan, walau tidak sering, tapi sesekali mereka ingin mendengarnya.
Iya kan, Ji?
Hal-hal sederhana itu kadang luput dari ingatan. Entah karena kita disibukkan oleh keadaan atau justru isi kepala sudah lebih dulu runyam oleh kekhawatiran.
Hari ini mungkin bisa kita akhiri dengan sedikit kata-kata sederhana
Agar apa?
Agar kamu tau, sejenak tinggalkan yang rumit juga perlu, dan bersua tentang hal-hal yang sudah mulai dilupakan juga terkadang perlu.
Sebelum salah satu dari kita diambil Tuhan, Ji, selamat ulang tahun, I love you more than I loved Lee Min Ho when he act as City Hunter. xoxoxo
*gue mau aplod foto tapi gagaal teruus..blog nampaknya uda terlalu tua
Lagipula tidak pernah mengucapkan bukan berarti dia ga merasakannya. Tidak pernah mengucapkan bukan berarti perasaanya tidak sebesar mereka yang mengucapkannya.
Toh besaran perasaan dan dalamnya perasaan seseorang tidak bisa diukur dengan kalimat semata. Gapapa, namanya manusia punya cara dan sikapnya masing-masing untuk menunjukkan kasih sayang.
Tapi entah kenapa, saya justru pecaya bahwa sebagian besar manusia suka mendengar kalimat itu diutarakan, walau tidak sering, tapi sesekali mereka ingin mendengarnya.
Iya kan, Ji?
Hal-hal sederhana itu kadang luput dari ingatan. Entah karena kita disibukkan oleh keadaan atau justru isi kepala sudah lebih dulu runyam oleh kekhawatiran.
Hari ini mungkin bisa kita akhiri dengan sedikit kata-kata sederhana
Agar apa?
Agar kamu tau, sejenak tinggalkan yang rumit juga perlu, dan bersua tentang hal-hal yang sudah mulai dilupakan juga terkadang perlu.
Sebelum salah satu dari kita diambil Tuhan, Ji, selamat ulang tahun, I love you more than I loved Lee Min Ho when he act as City Hunter. xoxoxo
*gue mau aplod foto tapi gagaal teruus..blog nampaknya uda terlalu tua
Senin, 01 Juni 2020
New Paradigm
Apakah new normal adalah suatu solusi?
Entahlah...
Apakah new normal artinya kita dipaksa menjadi normal?
Dipaksa menerima keadaan yang tidak jelas keadaanya akan seperti apa?
Entahlah..
Jika ditanya, saya pribadi masih tidak paham.
Sepertinya masih 49-51
49 untuk okelah..mari kita berdampingan seperti dahulu kala, namun ada sesuatu yang 'new' pada akhirnya, yang harus kita anggap suatu kenormalan di jaman ini
51 untuk pemerintah sudah gagal, tidak bisa handle, maka dilepaskannya kita, biar terseleksi dengan sendirinya. Pada akhirnya, tinggal menunggu giliran saja, satu persatu profesi yang banyak berhubungan dengan orang banyak, menunggu gilirannya untuk terkontaminasi.
Saat ini saya masih mengutuki orang-orang egois di luar sana. Mungkin sambil menghalau pikiran-pikiran horor yang sangat mungkin akan terjadi pada teman-teman saya di luar sana. Saya juga. Keluarga saya juga, dan keluarga mereka.
Selamat malam.
Entahlah...
Apakah new normal artinya kita dipaksa menjadi normal?
Dipaksa menerima keadaan yang tidak jelas keadaanya akan seperti apa?
Entahlah..
Jika ditanya, saya pribadi masih tidak paham.
Sepertinya masih 49-51
49 untuk okelah..mari kita berdampingan seperti dahulu kala, namun ada sesuatu yang 'new' pada akhirnya, yang harus kita anggap suatu kenormalan di jaman ini
51 untuk pemerintah sudah gagal, tidak bisa handle, maka dilepaskannya kita, biar terseleksi dengan sendirinya. Pada akhirnya, tinggal menunggu giliran saja, satu persatu profesi yang banyak berhubungan dengan orang banyak, menunggu gilirannya untuk terkontaminasi.
Saat ini saya masih mengutuki orang-orang egois di luar sana. Mungkin sambil menghalau pikiran-pikiran horor yang sangat mungkin akan terjadi pada teman-teman saya di luar sana. Saya juga. Keluarga saya juga, dan keluarga mereka.
Selamat malam.
Sabtu, 30 Mei 2020
Be my mistake
Itu judul lagu The 1975, bukan tentang apa-apa sih, cuma lagi kena aja didengerin pas sekarang lagi hujan
Jadi, kemarin saya jaga. Hidup mati itu memang di tangan Tuhan ya. Ada pasien saya, datang dengan serangan jantung. Datangnya stabil sih, dan direncanakan dipasang stent. And then, istrinya cerita, katanya karena beberapa hari ini suaminya mengeluh nyeri dada, so ditanyain lah ke orang pinter. Kata beliau (orang pinter), atma (roh) suaminya sedang digantung, diminta untuk ditebus dengan semacam persembahan gitu (kepercayaan di Bali) dalam waktu 3 hari (waktu baiknya), kalau ga, ya suaminya akan meninggal.
Singkat cerita suami dibawa ke cath lab untuk dipasang stent, dan tebak apa yang terjadi, suaminya henti jantung di sana. Such a perburukan kondisi yang terjadi mendadak. Setelah di pijat jantung, syukurnya kembali sadar, lalu dibawa ke ICCU.
Jadi, saya keinget cerita istrinya, seberapapun manusia menghindar, apapun takdirnya, terjadi ya terjadilah.
Hidup ya walaupun kita rencanain, tetap yang eksekusi juga Tuhan.
Dan ingatan saya kembali kepada teman saya yang sudah di atas sana.
Hidup memang keras ya. Tidak melulu hanya tentang bertahan, berjuang, terpuruk, lalu bangkit.
Ada sisi lain yang lebih kelam, bahkan terlalu kelamnya sehingga dibagi pun tidak mudah.
Masih ada penyesalan, mengapa sih kita tidak peka ? Apa kita terlalu fokus pada hidup dan ilmiah masing-masing sehingga ada yang meronta-ronta meskipun dalam diam pun, tetap tak tampak?
Ah..apapun keputusanmu, ya, takdir tetap di tangan Tuhan.
Teringat saya bergegas untuk memastikan dengan mata sendiri bahwa itu kamu. Mau percaya atau tidak, pada akhirnya realita membuktikan bahwa sesuatu yang tampak baik-baik saja, tidak selamanya baik-baik saja. Hidup memang tidak seringan itu.
Rest in peace beautiful soul, rest in love, we all always love you
Jadi, kemarin saya jaga. Hidup mati itu memang di tangan Tuhan ya. Ada pasien saya, datang dengan serangan jantung. Datangnya stabil sih, dan direncanakan dipasang stent. And then, istrinya cerita, katanya karena beberapa hari ini suaminya mengeluh nyeri dada, so ditanyain lah ke orang pinter. Kata beliau (orang pinter), atma (roh) suaminya sedang digantung, diminta untuk ditebus dengan semacam persembahan gitu (kepercayaan di Bali) dalam waktu 3 hari (waktu baiknya), kalau ga, ya suaminya akan meninggal.
Singkat cerita suami dibawa ke cath lab untuk dipasang stent, dan tebak apa yang terjadi, suaminya henti jantung di sana. Such a perburukan kondisi yang terjadi mendadak. Setelah di pijat jantung, syukurnya kembali sadar, lalu dibawa ke ICCU.
Jadi, saya keinget cerita istrinya, seberapapun manusia menghindar, apapun takdirnya, terjadi ya terjadilah.
Hidup ya walaupun kita rencanain, tetap yang eksekusi juga Tuhan.
Dan ingatan saya kembali kepada teman saya yang sudah di atas sana.
Hidup memang keras ya. Tidak melulu hanya tentang bertahan, berjuang, terpuruk, lalu bangkit.
Ada sisi lain yang lebih kelam, bahkan terlalu kelamnya sehingga dibagi pun tidak mudah.
Masih ada penyesalan, mengapa sih kita tidak peka ? Apa kita terlalu fokus pada hidup dan ilmiah masing-masing sehingga ada yang meronta-ronta meskipun dalam diam pun, tetap tak tampak?
Ah..apapun keputusanmu, ya, takdir tetap di tangan Tuhan.
Teringat saya bergegas untuk memastikan dengan mata sendiri bahwa itu kamu. Mau percaya atau tidak, pada akhirnya realita membuktikan bahwa sesuatu yang tampak baik-baik saja, tidak selamanya baik-baik saja. Hidup memang tidak seringan itu.
Rest in peace beautiful soul, rest in love, we all always love you
Senin, 25 Mei 2020
Berdamai dengan keadaan
Pada akhirnya sih semua ini akan benar-benar menjadi new normal. Yah mau bagaimana lagi, kita ga mungkin akan setidak-empati itu dengan memaksakan dan berkoar koar untuk meyerukan agar orang-orang diam di rumah, kan. Bisa diam di rumah menurut saya suatu keistimewaan, seistimewa hang out rutin yang terjadi sebelum pandemi ini.
Ya kali dagang bakpao yang lewat depan rumah kita suruh ga jualan kan?
Jalan-jalan sih pada akhirnya sekarang jadi lebih ramai. Mau nyebrang uda lebih susah. Tinggal nunggu rutinitas macet yang menjemukan aja. Setelah itu uda. Semua akan kembali seperti semula. Dengan adaptasi-adaptasi tentunya.
Mungkin ga akan ada lagi salam-salaman. Mungkin penjualan lipstick juga akan turun. Mungkin trend fashion sekarang akan melirik pangsa pasar baru, masker dan head cap. Mungkin besok-besok ga ada rutinitas upacara bendera lagi ya? Atau nonton konser deh.
Yah..pada akhirnya mungkin nanti mau ga mau akan ada fase semua tenaga kesehatan akan bergantian terinfeksi, terseleksi alam, dan kemudian herd imunity akan terjadi.
Yah semua memang pahit. Efek pandemi ini sistemik sekali. Tidak ada sektor yang tidak terimbas. Kemarin saya olahraga ke Sanur, ya emang mati. Itu malam minggu lho. Kafe dan resto cuma 10 persen aja yang buka. Apalagi toko suvenir. Kalau malam sepertinya akan agak horor.
Kemarin malam saya terkejut dengan kabar teman saya seangkatan terinfeksi. Pada akhirnya, semua mungkin akan tunggu waktunya ya. Kerja di tempat beresiko, ya pasti paparannya tinggi. Syukurnya dia baik-baik saja. Tidak terbayang jika mengenai dokter-dokter senior yang sudah pensiun, dan jika itu orang tua kita sendiri. Virus ini pada akhirnya terasa lebih dekat dengan kabar teman-teman kita terinfeksi satu persatu.
Yah mungkin bisa diambil hikmahnya. Waktunya kita rehat sejenak.
Hidup tidak melulu hanya tentang orang lain.
Ya kali dagang bakpao yang lewat depan rumah kita suruh ga jualan kan?
Jalan-jalan sih pada akhirnya sekarang jadi lebih ramai. Mau nyebrang uda lebih susah. Tinggal nunggu rutinitas macet yang menjemukan aja. Setelah itu uda. Semua akan kembali seperti semula. Dengan adaptasi-adaptasi tentunya.
Mungkin ga akan ada lagi salam-salaman. Mungkin penjualan lipstick juga akan turun. Mungkin trend fashion sekarang akan melirik pangsa pasar baru, masker dan head cap. Mungkin besok-besok ga ada rutinitas upacara bendera lagi ya? Atau nonton konser deh.
Yah..pada akhirnya mungkin nanti mau ga mau akan ada fase semua tenaga kesehatan akan bergantian terinfeksi, terseleksi alam, dan kemudian herd imunity akan terjadi.
Yah semua memang pahit. Efek pandemi ini sistemik sekali. Tidak ada sektor yang tidak terimbas. Kemarin saya olahraga ke Sanur, ya emang mati. Itu malam minggu lho. Kafe dan resto cuma 10 persen aja yang buka. Apalagi toko suvenir. Kalau malam sepertinya akan agak horor.
Kemarin malam saya terkejut dengan kabar teman saya seangkatan terinfeksi. Pada akhirnya, semua mungkin akan tunggu waktunya ya. Kerja di tempat beresiko, ya pasti paparannya tinggi. Syukurnya dia baik-baik saja. Tidak terbayang jika mengenai dokter-dokter senior yang sudah pensiun, dan jika itu orang tua kita sendiri. Virus ini pada akhirnya terasa lebih dekat dengan kabar teman-teman kita terinfeksi satu persatu.
Yah mungkin bisa diambil hikmahnya. Waktunya kita rehat sejenak.
Hidup tidak melulu hanya tentang orang lain.
Minggu, 24 Mei 2020
RIP beautiful soul...
Terlalu banyak kelam yang terjadi di tahun ini
Terlalu banyak kehilangan, bahkan belum sampai di pertengahan tahun ini.
Hai 2020..sudah cukupkah kehilangan sampai hari ini?
Teringat kala malam tahun baru, segala doa dan harapan terpanjatkan di detik-detik pergantian tahun, dengan back sound kembang api silih berganti.
Segala harapan baik tertuju, tidak sedikitpun berpikir akan terjadi sejauh ini.
Banyak jiwa-jiwa orang terdekat yang pergi ke pangkuan Tuhan.
Terlalu banyak kehilangan yang terjadi bahkan belum di penghujung tahun, entah apalagi yang akan terjadi di kemudian hari.
Banyak air mata, banyak hati yang meratapi banyak kali kepergian.
Jiwa-jiwa yang dicintai sudah bersatu dengan yang Empunya.
Dear my friends...segala doa masih terpanjatkan untuk kehidupan yang kekal di atas sana.
With love,
Terlalu banyak kehilangan, bahkan belum sampai di pertengahan tahun ini.
Hai 2020..sudah cukupkah kehilangan sampai hari ini?
Teringat kala malam tahun baru, segala doa dan harapan terpanjatkan di detik-detik pergantian tahun, dengan back sound kembang api silih berganti.
Segala harapan baik tertuju, tidak sedikitpun berpikir akan terjadi sejauh ini.
Banyak jiwa-jiwa orang terdekat yang pergi ke pangkuan Tuhan.
Terlalu banyak kehilangan yang terjadi bahkan belum di penghujung tahun, entah apalagi yang akan terjadi di kemudian hari.
Banyak air mata, banyak hati yang meratapi banyak kali kepergian.
Jiwa-jiwa yang dicintai sudah bersatu dengan yang Empunya.
Dear my friends...segala doa masih terpanjatkan untuk kehidupan yang kekal di atas sana.
With love,
Langganan:
Komentar (Atom)