Pada akhirnya sih semua ini akan benar-benar menjadi new normal. Yah mau bagaimana lagi, kita ga mungkin akan setidak-empati itu dengan memaksakan dan berkoar koar untuk meyerukan agar orang-orang diam di rumah, kan. Bisa diam di rumah menurut saya suatu keistimewaan, seistimewa hang out rutin yang terjadi sebelum pandemi ini.
Ya kali dagang bakpao yang lewat depan rumah kita suruh ga jualan kan?
Jalan-jalan sih pada akhirnya sekarang jadi lebih ramai. Mau nyebrang uda lebih susah. Tinggal nunggu rutinitas macet yang menjemukan aja. Setelah itu uda. Semua akan kembali seperti semula. Dengan adaptasi-adaptasi tentunya.
Mungkin ga akan ada lagi salam-salaman. Mungkin penjualan lipstick juga akan turun. Mungkin trend fashion sekarang akan melirik pangsa pasar baru, masker dan head cap. Mungkin besok-besok ga ada rutinitas upacara bendera lagi ya? Atau nonton konser deh.
Yah..pada akhirnya mungkin nanti mau ga mau akan ada fase semua tenaga kesehatan akan bergantian terinfeksi, terseleksi alam, dan kemudian herd imunity akan terjadi.
Yah semua memang pahit. Efek pandemi ini sistemik sekali. Tidak ada sektor yang tidak terimbas. Kemarin saya olahraga ke Sanur, ya emang mati. Itu malam minggu lho. Kafe dan resto cuma 10 persen aja yang buka. Apalagi toko suvenir. Kalau malam sepertinya akan agak horor.
Kemarin malam saya terkejut dengan kabar teman saya seangkatan terinfeksi. Pada akhirnya, semua mungkin akan tunggu waktunya ya. Kerja di tempat beresiko, ya pasti paparannya tinggi. Syukurnya dia baik-baik saja. Tidak terbayang jika mengenai dokter-dokter senior yang sudah pensiun, dan jika itu orang tua kita sendiri. Virus ini pada akhirnya terasa lebih dekat dengan kabar teman-teman kita terinfeksi satu persatu.
Yah mungkin bisa diambil hikmahnya. Waktunya kita rehat sejenak.
Hidup tidak melulu hanya tentang orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar