Minggu, 16 Oktober 2016

Cheer up!

Pada tahap ini saya memutuskan untuk menulis lagi.
hmm..Setelah saya pikir-pikir lagi, kekuatan yang dapat ditimbulkan ketika kamu menimbun sesuatu apapun itu di dalam hatimu, lama kelamaan semakin banyak, menumpuk, berkerak, sehingga susah untuk dikeluarkan, membatu, dan pada akhirnya ketika palung hatimu tidak bisa menampung itu semua, itu akan meledak.

Saya pernah mengalaminya. Pada awalnya saya rasa saya cukup kuat untuk kembali menimbun suatu cerita dalam lubang yang sama. Toh selama ini saya masih baik-baik saja setelah saya jejal lubang itu dengan berbagai macam cerita dan rasa selama saya hidup saya sampai saat ini. Saya lakukan lah hal tersebut tanpa ada pikiran atau firasat buruk.

Sampai pada akhirnya, setelah saya menonton suatu film, dan film tersebut menyentil secuil saja tentang bagian dalam cerita yang saya timbun, seketika pertahanan saya roboh. Saya sangat tidak menyangka hal itu akan terjadi. Bahwa pada suatu sore itu, saat sedang makan di Solaria bersama seorang teman, tanpa disangka Saya menangis yang menurut saya cukup heboh. Tanpa saya bisa kendalikan. Keluarlah itu tangis, di depan teman yang tidak tahu cerita apa-apa dan merasa kebingungan kenapa saya jadi menangis tanpa sebab apapun. Saya berusaha menahan sampai keluar tempat makan, dan tangis itu tumpah sejadi-jadinya di jalan. Bayangkan. Di jalan.  Dan berlanjut di rumah. Hanya karena 1 bagian dari cerita itu dicungkil. Robohlah semua hal yang sudah saya pertahankan selama ini. Dan saya baru menyadari bahwa ternyata isi dalam saya rapuh. Vulnerable. Sampai ada teman saya yang mengatakan bahwa apa yang saya pertunjukkan  selama ini adalah ketegaran yang menyedihkan.

So..isinya adalah...saya berusaha menulis apapun saat ini dengan maksud agar hal yang sama tidak akan kembali menimbulkan banjir bandang perasaan yang campur aduk. Karena mencegah bencana lebih baik daripada berusah bangkit dari luluh lantaknya perasaan akibat bencana.


Selamat memasuki masa-masa memasuki kehidupan yang luar biasa melelahkan, Dian!

Jumat, 19 Februari 2016

Untuk Kamu Yang Saat Ini Sudah Meninggal Dalam Damai

Kamu tentunya akan berpikir bahwa saya akan baik-baik saja. Tanpa kabar, tanpa kedatangan, hanya sedikit ucapan kecil yang hanya menghabiskan setengah dari jumlah karakter maksimal dalam SMS.

Tapi, seandainya kamu tahu, walaupun saya juga tidak ingin kamu tahu, respon saya jauh dari yang kamu bisa perkirakan. Saya juga merasa ini respon yang ajaib, seperti jatuh dari langit, langsung menghujam bumi, seperti meteor yang menimbulkan kawah, atau mungkin palung, yang jauuuuh membekas ke dalam. 

Tidak pernah saya bayangkan efekmu akan sesistemik ini. Kamu, dan acara bahagiamu, seharusnya membuat saya ikut senang. But, honestly, tidak. Saya berbeda dari tamu-tamu mu yang lain. Yang bahkan hingga saat ini pikiran itu terus menghantui saya. Mencegah saya untuk baik-baik saja. Mencegah saya untuk menonton film dengan bahagia-bahagia saja. Mencegah saya bisa menikmati perjalanan ke tempat jaga biasa-biasa saja. Sumpah, sedikitpun saya tidak pernah berpikir bahwa kamu, bisa dan sudah menyebabkan saya tidak berdaya. Bahkan kamu, yang saya tidak ketahui dimana, bisa tiba muncul dalam relaksasi yoga saya, dan bisa-bisanya kamu buat saya menitikkan air mata bahkan saat mata saya terpejam. 

Terima kasih pada kamu yang sudah membuang pulsa hanya untuk memebicarakan hal-hal bodoh dan absurd berpuluh-puluh jam. Untuk coklat yang tiba-tiba ada di depan pintu gerbang. Untuk suara yang membuat merinding. Untuk tutorial gitar. Untuk tempat-tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan untuk cinta yang sejak lama. 

Saya yang salah. Dan saat ini saya menyesal. Benar-benar menyesal dari lubuk hati yang paling dasar.

Please, meninggallah dalam damai. Biarkan saya hidup tanpa kamu hantui lagi. Biarkan saya hidup tanpa meneteskan apa-apa lagi karena kamu.



Jumat, 01 Januari 2016

Happy New Year 2016

Hallo universe...
Ketika saya memejamkan mata dan membayangkan apa yang telah membentuk masa lampau saya di 2015, hal paling signifikan yang saya rasakan adalah tidak pandai bersyukur dengan semua berkat Tuhan.
Dengan semua yang diberikan, pekerjaan yang seimbang, teman-teman yang baik, lingkungan kerja yang bagus, pengalaman jelajah yang tak ternilai, orangtua serta keluarga besar yang tak ternilai, mungkin saya terlalu sombong untuk mengkaui bahwa saya bahagia.
Segala daya yang terjadi dalam mekanisme kegagalan dan keputusasaan telah membuat saya terlalu naif untuk mengakui bahwa Tuhan menciptakan cobaan untuk menempa jiwa raga, dan pada akhirnya tempaan itulah yang membentuk dan memadatkan hal tersebut menjadi suatu hal yang kuat dan rasional, dapat diterima dengan akal sehat.
Terimakasih Tuhan, atas kegagalan-kegagalan, atas pengalaman yang memberikan saya kesempatan belajar seluas-luasnya. Kepada pasien saya, teman-teman dokter, perawat, dan staf medis lainnya, yang membuat setiap kerja itu menjadi ringan dan menyenangkan.
Untuk keluarga besar yang selalu mendukung apapun yang saya lakukan, sebuah tempat dimana saya bisa kembali pulang setelah menjadi pelayan orang lain.
Terima kasih Tuhan atas semua pemberianmu yang cuma-cuma ini.

Di bawah langit yang cerah dengan sang Chandra muncul malu-malu dibalik lembaran awan serta dentuman kembang api yang menghiasi langit temaram, kami duduk bersimpuh, mengulang kembali rekaman peristiwa yang menapak dalam memori. Melantunkan ayat-ayat yang berisi doa untuk 2016 yang lebih baik.
Semoga damai di pikiran, damai dalam segala ucap kata, dan damai dalam hati.
Semoga dunia menjadi lebih baik, disatukan oleh keberagaman dan tak ada lagi diskriminasi dalam pandangan.

*doa saya panjatkan untuk pasien dalam ambulance yang tadi berpapasan. Untuk paramedis dan segala tenaga kerja yang melakukan lembur hingga larut di malam pergantian.