Kamis, 24 September 2015

Gagal

Gagal itu ga enak.
Seandainya bisa memilih, mungkin saya ga bakal melakukan apapun karena takut gagal. Cari aman kata orang.
Gagal tu efeknya sistemik. Efek ke kehidupan sosial, mood, nafsu makan, harga diri, bahkan bisa ke kepribadian. Bisa merubah kepribadian ekstrimnya.
Saat saya gagal, entah apapun sebabnya, ada suatu fase dimana saya berasa mati rasa. Nasihat standar semacam sabar ya, coba lagi taun depan, mungkin belum saatnya, nikah dulu, mental semental mentalnya. Yang ada saat itu adalah saya pinginnya sendiri, tanpa ada yang nanya, tanpa ada yang komen, tanpa ada yang cari tau dari sumber terdekat, tanpa ada yang pura-pura simpati.
Sendirian, entah itu pura-pura tetep tegar, atau menangis sejadi-jadinya. Langit berasa runtuh? jelas. Merasa paling ga berguna? Pasti. Merasa telah mengecewakan banyak orang? Iya
Dan bayangkan, ketika kita aja tidak menyadari sejenak eksistensi kita, tetapi ada orang-orang yang ga peka, rasanya jelas amat sangat ga enak. Kayak semacam luka ditaburin garem kali ya.

Dan saat ini, ada sahabat saya yang sedang gagal. Saya tau kok rasanya, meskipun momentnya beda. Saat ini kata-kata simpati ga bakal ada efeknya. Mental. yang dibutuhkan ya sendirian. Entah tetap berbohong pura-pura tegar atau  menangis sejadi-jadinya