Kamis, 24 September 2015
Gagal
Seandainya bisa memilih, mungkin saya ga bakal melakukan apapun karena takut gagal. Cari aman kata orang.
Gagal tu efeknya sistemik. Efek ke kehidupan sosial, mood, nafsu makan, harga diri, bahkan bisa ke kepribadian. Bisa merubah kepribadian ekstrimnya.
Saat saya gagal, entah apapun sebabnya, ada suatu fase dimana saya berasa mati rasa. Nasihat standar semacam sabar ya, coba lagi taun depan, mungkin belum saatnya, nikah dulu, mental semental mentalnya. Yang ada saat itu adalah saya pinginnya sendiri, tanpa ada yang nanya, tanpa ada yang komen, tanpa ada yang cari tau dari sumber terdekat, tanpa ada yang pura-pura simpati.
Sendirian, entah itu pura-pura tetep tegar, atau menangis sejadi-jadinya. Langit berasa runtuh? jelas. Merasa paling ga berguna? Pasti. Merasa telah mengecewakan banyak orang? Iya
Dan bayangkan, ketika kita aja tidak menyadari sejenak eksistensi kita, tetapi ada orang-orang yang ga peka, rasanya jelas amat sangat ga enak. Kayak semacam luka ditaburin garem kali ya.
Dan saat ini, ada sahabat saya yang sedang gagal. Saya tau kok rasanya, meskipun momentnya beda. Saat ini kata-kata simpati ga bakal ada efeknya. Mental. yang dibutuhkan ya sendirian. Entah tetap berbohong pura-pura tegar atau menangis sejadi-jadinya
Jumat, 21 Agustus 2015
Pada akhirnya...
Selalu akan tiba suatu masa dimana orang yang dulunya selalu ada, akan menjadi sebisanya. Orang yang selalu menunggu saat ini menjadi ditunggu, dan orang yang selalu diharapkan menjadi tak bisa diandalkan.
Selasa, 11 Agustus 2015
Hello, universe!
Kemarin saya baru aja naik gunung. Naik Gn. Batur. Aktivitas yang uda lama ga saya lakukan. Terakhir naiknya Rinjani, itupun 2 tahun yang lalu. Uda lama ga naik ditambah ga pernah olahraga bikin saya hampir semaput di atas sana. Ditambah lagi naiknya subuh2 dengan cuaca yang dingin banget. Jujur deh, saya hampir aja nyerah. Maunya diem di pertengahan jalan sambil hipotermi, yang penting ga naik lagi. Bagi saya kemarin itu so damn hard lah. Medannya berat. Terjal, berbatu, berpasir, berdebu. Mau pake masker, nafas makin berat. Jadilah sy jalan sempoyongan sambil nahan napas biar ga kemasukan debu.
Pada satu titik saya rasa saya uda ga sanggup lagi. Kedinginan, perut mual nyaris muntah, kaki uda gemeteran, ga sanggup lagi menapak ke atas.
Cuma Tuhan pasti ngasi cobaan yang ga melebihi kemampuan umatnya. Di saat saya uda merasa down se down down nya, ada teman saya yang terus narik saya ke atas. Sayapun mulai setapak demi setapak pelan2 naik. Dingin, jelas. Kabut tambah tebal. Jalanan mulai dominan berpasir, hampir tak ada berbatu. Naik semakin sulit karena melangkah di jalur berpasir.
Finally...saya sampai puncak. Yang beberapa jam yang lalu saya pikir mustahil saya tapaki. Yang saat itu saya sudah pikir di luar kendali dan kemampuan saya. Terimakasih saya panjatkan kepada Tuhan. Sempat saya berpikir mungkin ini kali terakhir saya bisa mendaki, hanya saja Tuhan kasi saya kesempatan lagi. Trims untuk teman2 mendaki saya yang sudah memaklumi keringkihan tubuh saya ini. Hehe..maaf membuat kalian sedikit terhambat gara3 saya. Haha..
Minggu, 02 Agustus 2015
Welcome August...
Hmm..
Ketika semuanya mulai terasa melelahkan, bayangkanlah ketika kamu sudah sampai di puncak dan kamu akan mengenang semua usahamu itu dengan senyum bahkan tertawaan.
.. dan sepertinya saya harus berjuang lebih keras lagi...
Cemumut kakaa...
Selasa, 28 Juli 2015
Untuk dirimu, yang sangat bijaksana..
Iya, kamu.
Sedang apa ya? Apa alismu sedang berkedut karena menjadi main topic dalam blog ini? Atau mungkinkah kamu sedang menulis topik yang sama di blog yang berbeda dan mengharapkan alis saya berkedut juga?? Haha..
Sejujurnya..dalam lubuk hati terdalam saya yang paling dasar banget, ada sedikit penyesalan tidak membiarkan kamu saat itu masuk dalam kehidupan saya. Kamu sih..orang yang tepat, di waktu yang salah, di situasi yang labil.
Kemarin waktu kumpul kumpul, ada selitas pembicaraan yang topiknya kamu, Iya, kamu lagi. Jadi saya senyum senyum sendiri deh. Berlanjut sampai sekarang karena topiknya masih kamu. Sekarang kamu jadinya orang yang tidak tepat, di waktu yang benar, di situasi yang lumayan stabil. Cuma tetep aja..kamu bukan orang yang tepat. Tapi ga papa lah,,setidaknya kamu terbukti jadi kenangan yang berharga sampai diabadikan dalam tulisan ini.
Terimakasih untuk kamu yang bijaksana, yang dengan dewasanya menemani fisik saya yang ringkih ini.
Terimakasih untuk kamu yang bijaksana, yang sudah meringankan beban saya sehingga saya lebih ringan menggapai tempat yang lebih tinggi
Terimakasih untuk kamu yang bijaksana, yang menyelesaikan segala pertengkaran, mengatasi segala kepegelan, dan mengerti bahwa jiwa saya ini terkadang hanya ingin dimengerti tanpa mau mengerti
Terimakasih untuk kamu yang bijaksana, yang tetap memberikan saya semangat meskipun saya tau kamu pun sebenarnya sudah hampir putus asa.
Karenanya, tidak berlebihan, kamu buat saya masih tetap hidup sampai saat ini. Sampai saya bisa menuliskan kamu disini.
...dan saat ini, saya masih mendoakan kamu semoga kamu masih dan akan selalu bijaksana, entah siapapun yang akan bersamamu nanti. Semoga kamu berbahagia dan tetap menginspirasi.
Minggu, 26 Juli 2015
Hai Blog..
Hai blog..Senang rasanya saya bisa ingat nulisin kamu lagi diantara waktu senggang-gak males-suasana mendukung saya yang jarang-jarang ada (tsaaah)
Mungkin saat ini saya agak berubah kepribadian yah dibanding tahun-tahun pertama saya nulisin kamu. Sejenak flashback dulu lah liat-liat produk dari kretaifitas saya yang dulu dulu..Rasanya dulu saya serius banget -_-'
Banyak hal yang uda terjadi blog ketika saya lama ga ngisi kamu..Banyak sudah kegagalan kegagalan yang saya alami..Banyak yang datang dan pergi..Banyak hal-hal besar yang saya lakukan..Banyak keputusan-keputusan besar yang sudah saya ambil..Lebih tua, iya. Lebih dewasa, entahlah. Saya masih dengan kebingungan kebingungan yang dulu.
..dan saya masih belum menemukan mr.right..yeyeye lalalala