Itu judul lagu The 1975, bukan tentang apa-apa sih, cuma lagi kena aja didengerin pas sekarang lagi hujan
Jadi, kemarin saya jaga. Hidup mati itu memang di tangan Tuhan ya. Ada pasien saya, datang dengan serangan jantung. Datangnya stabil sih, dan direncanakan dipasang stent. And then, istrinya cerita, katanya karena beberapa hari ini suaminya mengeluh nyeri dada, so ditanyain lah ke orang pinter. Kata beliau (orang pinter), atma (roh) suaminya sedang digantung, diminta untuk ditebus dengan semacam persembahan gitu (kepercayaan di Bali) dalam waktu 3 hari (waktu baiknya), kalau ga, ya suaminya akan meninggal.
Singkat cerita suami dibawa ke cath lab untuk dipasang stent, dan tebak apa yang terjadi, suaminya henti jantung di sana. Such a perburukan kondisi yang terjadi mendadak. Setelah di pijat jantung, syukurnya kembali sadar, lalu dibawa ke ICCU.
Jadi, saya keinget cerita istrinya, seberapapun manusia menghindar, apapun takdirnya, terjadi ya terjadilah.
Hidup ya walaupun kita rencanain, tetap yang eksekusi juga Tuhan.
Dan ingatan saya kembali kepada teman saya yang sudah di atas sana.
Hidup memang keras ya. Tidak melulu hanya tentang bertahan, berjuang, terpuruk, lalu bangkit.
Ada sisi lain yang lebih kelam, bahkan terlalu kelamnya sehingga dibagi pun tidak mudah.
Masih ada penyesalan, mengapa sih kita tidak peka ? Apa kita terlalu fokus pada hidup dan ilmiah masing-masing sehingga ada yang meronta-ronta meskipun dalam diam pun, tetap tak tampak?
Ah..apapun keputusanmu, ya, takdir tetap di tangan Tuhan.
Teringat saya bergegas untuk memastikan dengan mata sendiri bahwa itu kamu. Mau percaya atau tidak, pada akhirnya realita membuktikan bahwa sesuatu yang tampak baik-baik saja, tidak selamanya baik-baik saja. Hidup memang tidak seringan itu.
Rest in peace beautiful soul, rest in love, we all always love you
Sabtu, 30 Mei 2020
Senin, 25 Mei 2020
Berdamai dengan keadaan
Pada akhirnya sih semua ini akan benar-benar menjadi new normal. Yah mau bagaimana lagi, kita ga mungkin akan setidak-empati itu dengan memaksakan dan berkoar koar untuk meyerukan agar orang-orang diam di rumah, kan. Bisa diam di rumah menurut saya suatu keistimewaan, seistimewa hang out rutin yang terjadi sebelum pandemi ini.
Ya kali dagang bakpao yang lewat depan rumah kita suruh ga jualan kan?
Jalan-jalan sih pada akhirnya sekarang jadi lebih ramai. Mau nyebrang uda lebih susah. Tinggal nunggu rutinitas macet yang menjemukan aja. Setelah itu uda. Semua akan kembali seperti semula. Dengan adaptasi-adaptasi tentunya.
Mungkin ga akan ada lagi salam-salaman. Mungkin penjualan lipstick juga akan turun. Mungkin trend fashion sekarang akan melirik pangsa pasar baru, masker dan head cap. Mungkin besok-besok ga ada rutinitas upacara bendera lagi ya? Atau nonton konser deh.
Yah..pada akhirnya mungkin nanti mau ga mau akan ada fase semua tenaga kesehatan akan bergantian terinfeksi, terseleksi alam, dan kemudian herd imunity akan terjadi.
Yah semua memang pahit. Efek pandemi ini sistemik sekali. Tidak ada sektor yang tidak terimbas. Kemarin saya olahraga ke Sanur, ya emang mati. Itu malam minggu lho. Kafe dan resto cuma 10 persen aja yang buka. Apalagi toko suvenir. Kalau malam sepertinya akan agak horor.
Kemarin malam saya terkejut dengan kabar teman saya seangkatan terinfeksi. Pada akhirnya, semua mungkin akan tunggu waktunya ya. Kerja di tempat beresiko, ya pasti paparannya tinggi. Syukurnya dia baik-baik saja. Tidak terbayang jika mengenai dokter-dokter senior yang sudah pensiun, dan jika itu orang tua kita sendiri. Virus ini pada akhirnya terasa lebih dekat dengan kabar teman-teman kita terinfeksi satu persatu.
Yah mungkin bisa diambil hikmahnya. Waktunya kita rehat sejenak.
Hidup tidak melulu hanya tentang orang lain.
Ya kali dagang bakpao yang lewat depan rumah kita suruh ga jualan kan?
Jalan-jalan sih pada akhirnya sekarang jadi lebih ramai. Mau nyebrang uda lebih susah. Tinggal nunggu rutinitas macet yang menjemukan aja. Setelah itu uda. Semua akan kembali seperti semula. Dengan adaptasi-adaptasi tentunya.
Mungkin ga akan ada lagi salam-salaman. Mungkin penjualan lipstick juga akan turun. Mungkin trend fashion sekarang akan melirik pangsa pasar baru, masker dan head cap. Mungkin besok-besok ga ada rutinitas upacara bendera lagi ya? Atau nonton konser deh.
Yah..pada akhirnya mungkin nanti mau ga mau akan ada fase semua tenaga kesehatan akan bergantian terinfeksi, terseleksi alam, dan kemudian herd imunity akan terjadi.
Yah semua memang pahit. Efek pandemi ini sistemik sekali. Tidak ada sektor yang tidak terimbas. Kemarin saya olahraga ke Sanur, ya emang mati. Itu malam minggu lho. Kafe dan resto cuma 10 persen aja yang buka. Apalagi toko suvenir. Kalau malam sepertinya akan agak horor.
Kemarin malam saya terkejut dengan kabar teman saya seangkatan terinfeksi. Pada akhirnya, semua mungkin akan tunggu waktunya ya. Kerja di tempat beresiko, ya pasti paparannya tinggi. Syukurnya dia baik-baik saja. Tidak terbayang jika mengenai dokter-dokter senior yang sudah pensiun, dan jika itu orang tua kita sendiri. Virus ini pada akhirnya terasa lebih dekat dengan kabar teman-teman kita terinfeksi satu persatu.
Yah mungkin bisa diambil hikmahnya. Waktunya kita rehat sejenak.
Hidup tidak melulu hanya tentang orang lain.
Minggu, 24 Mei 2020
RIP beautiful soul...
Terlalu banyak kelam yang terjadi di tahun ini
Terlalu banyak kehilangan, bahkan belum sampai di pertengahan tahun ini.
Hai 2020..sudah cukupkah kehilangan sampai hari ini?
Teringat kala malam tahun baru, segala doa dan harapan terpanjatkan di detik-detik pergantian tahun, dengan back sound kembang api silih berganti.
Segala harapan baik tertuju, tidak sedikitpun berpikir akan terjadi sejauh ini.
Banyak jiwa-jiwa orang terdekat yang pergi ke pangkuan Tuhan.
Terlalu banyak kehilangan yang terjadi bahkan belum di penghujung tahun, entah apalagi yang akan terjadi di kemudian hari.
Banyak air mata, banyak hati yang meratapi banyak kali kepergian.
Jiwa-jiwa yang dicintai sudah bersatu dengan yang Empunya.
Dear my friends...segala doa masih terpanjatkan untuk kehidupan yang kekal di atas sana.
With love,
Terlalu banyak kehilangan, bahkan belum sampai di pertengahan tahun ini.
Hai 2020..sudah cukupkah kehilangan sampai hari ini?
Teringat kala malam tahun baru, segala doa dan harapan terpanjatkan di detik-detik pergantian tahun, dengan back sound kembang api silih berganti.
Segala harapan baik tertuju, tidak sedikitpun berpikir akan terjadi sejauh ini.
Banyak jiwa-jiwa orang terdekat yang pergi ke pangkuan Tuhan.
Terlalu banyak kehilangan yang terjadi bahkan belum di penghujung tahun, entah apalagi yang akan terjadi di kemudian hari.
Banyak air mata, banyak hati yang meratapi banyak kali kepergian.
Jiwa-jiwa yang dicintai sudah bersatu dengan yang Empunya.
Dear my friends...segala doa masih terpanjatkan untuk kehidupan yang kekal di atas sana.
With love,
Langganan:
Komentar (Atom)