Rabu, 10 Juni 2020

Annonate

Siang ini selagi buat tesis, ada 1 lagu yang oke nih menurut saya, judulnya Membasuh, dinyanyiin sama Hindia dan Rara Sekar.

Jadi pada lagu ini pesannya adalah, kita hidup bukan hanya untuk mengharapkan apa yang kita beri akan kembali.

Sampai usia saya sekarang ini, uda banyak ketemu keadaan yang bikin jungkir balik dan orang-orang dengan beragam rupa. Salah satu yang saya pelajari adalah harapan dan realita seringkali ga sejalan. Dan sumber kekecewaan selama ini adalah ya dari ga sinkronnya harapan dan realita itu. Saya jadi uring-uringan, ngomel-ngomel seharian, dan yaa variatif sih ya ngilangin kecewanya, bisa cepat balik, bisa juga lama banget, tergantung kadarnya.

Jadi, semakin kesini saya jadi belajar, kecewa itu ga enak. Jadi belajarlah memposisikan diri, jangan menaruh harapan yang tinggi pada suatu hal yang berpotensi mengecewakan. Atau belajarlah untuk iklas iklas aja sudah. Jangan pamrih, jangan berharap lebih. Kita buat baik ya buat baik aja, jangan minta insentif yang ga jelas turun kapan.

Jadi kalo seandainya kita analogikan aksi adalah A dan reaksi adalah R, maka :
Bila kita berharap satu aksi harus menghasilkan 1 reaksi, maka ya hasilnya adalah 1/1 = 1
Bila kita berharap 1 aksi kita akan menghasilkan 2 reaksi, maka kita akan dapatkan 1/2
Bila kita melakukan 1 aksi, tetapi tidak mengharapkan reaksi (0), maka 1/0 yang kita terima adalah tak terhingga
Jadi, dalam hal ini mungkin hukum ke tiga Newton mendapat pengecualian dalam aplikasinya.

Waktu itu, ini masalah duit sih ya, ga banyak sih, 600 ribu, jadi kita rencana pergi seminar ber 4 ke jakarta, waktu itu saya nalangin untuk biaya tiket, dan pada hari H adalah teman saya yang batal pergi. Tiket uda dipesan, mau nagih juga ga enak karena sepertinya dia ada masalah ekonomi. Jadi ya uda deh, ta iklasin aja. Setelah beberapa lama, eh dapet duit dari departemen, dengan jumlah berkali-kali lipat, jadi senengnya berlipat lipat juga waktu itu.

Satu lagi, saya waktu itu kan sempat jadi ODP, eh ga taunya dapet bantuan 1 tas dari dinas kesehatan, isinya mie, minyak, gula, beras, sabun, snack, sarden. Seneng sih, kayak dapet parsel gitu, cuma ya pada akhirnya saya kasi ke tukang bakpao yang sering lewat depan rumah, pas kasi dan dia terima dengan riang gembira, rasanya juga saya jadi ketularan gembira yang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari rasa senang saya pas saya terima parsel dari dinas kesehatan. Ya kali kan kita mengharapkan si bapak bakpao kasi hal yang sama ke kita.

Jadi ya udahlah, daripada nunggu insentif yang entah kapan, dan berhubung negara sepertinya juga sedang tidak baik-baik saja ekonominya, ya berbuatlah selagi bisa, selagi sehat, selagi mampu, selagi masih hidup.


1 komentar: